Minggu, 01 Agustus 2021

Ulang Tahun

Pasti akan ada satu atau beberapa hari yang sangat spesial bagi setiap orang. Hari jadian dengan pacar, hari pernikahan (buat yang sudah menikah), atau hari kemerdekaan Kongo.


Maksud saya, hari itu adalah hari ulang tahun. Hari di mana seseorang lahir dan hari tersebut dirayakan setiap tahun, biasanya ketika hari itu terulang kembali pada tahun selanjutnya. Biasanya sebagai pengingat bahwa umur seseorang bertambah tua. Muncullah berbagai harapan dan doa agar dia bertumbuh menjadi orang yang lebih baik, lebih sukses, lebih keren, lebih ok. Intinya didoakan yang terbaik oleh orang terdekat. Yang lebih lebih lah, pokoknya.


Besok, tanggal 2 Agustus, adalah hari ulang tahun saya. Menurut saya, tanggal tersebut merupakan tanggal spesial (Setidaknya bagi saya, bukan bagi negara). Saya selalu menantikan tanggal ini ketika masih kecil. Berpikir berapa banyak orang yang ingat detail kecil ini dari saya. Berapa jumlah kado yang akan diterima, jumlah ucapan yang diterima. Bayangan itu selalu muncul di benak setiap jelang hari ulang tahun. Bahkan saya selalu menanti hari tersebut dengan gembira.


Hanya saja, tidak banyak memori yang bisa diingat setiap tanggal tersebut mampir. Ternyata tidak banyak yang ingat hari ulang tahun saya. Ada yang ingat saja rasanya sudah lebih dari cukup. Apalagi mengharapkan kado seabrek-abrek atau banyak ucapan. Diberi hadiah berupa kue ulang tahun hasil patungan teman, dirayakan di sekolah, atau kejutan saja rasanya sudah jadi kemewahan dunia (Lebay, ah). Mustahil. Percuma. 


Saya sampai ingat ketika SD pernah memancing pertanyaan ke salah satu teman supaya diucapkan selamat. Kurang lebih percakapannya begini:


Saya: "Eh, hari ini ulang tahun gue, loh."

Teman: *beli jajan* *ga terlalu dengerin*

Saya: "Lu tau ga hari ini ulang tahunnya siapa?"

Teman: "Ayo, balik ke kelas."


Rasa-rasanya malu sekali mengingat ini sampai sekarang. Sesepi itukah, sampai harus mengemis ucapan?


Saya berhenti membicarakan tanggal ulang tahun sendiri ke teman sejak momen itu, saking malunya. Sebetulnya keluarga selalu ingat hari lahir saya, tetapi hubungan kami tidak begitu dekat dan tidak terbiasa saling mengucapkan. Ayah dan Ibu sempat selalu mengucapkan, tetapi berhenti sejak saya cukup sering meminta kado setiap tahun. Hanya Mamak yang selalu mengingat ulang tahun saya dan mengucapkannya dengan senang hati, bagaikan saya adalah salah satu harta berharganya.


Di samping itu, perasaan gembiranya tetap muncul. Saya selalu berharap hal itu selalu terjadi setiap tahun. Layaknya orang yang sudah tahu dia tidak akan naik jabatan, tetapi tetap dengan pikiran positif, tetap sabar menanti, semoga hari promosinya terjadi. Itu yang saya rasakan sebelumnya. Saya selalu sengaja tidak tidur sampai tengah malam untuk memantau apakah ada yang mengucapkan ulang tahun kepada saya, tepat ketika ganti hari. Jujur saja, saya selalu iri ketika ada orang yang diucapkan ulang tahun tepat setelah ganti hari. Pikiran yang selalu muncul di benak adalah, "Wah, dia spesial banget, ya, sampai langsung diucapkan teman dekatnya. Padahal baru 15 detik ganti hari, loh." 


Sebagai orang yang sempat merasakan self-centered di masa remajanya, saya cukup ingin diperlakukan demikian. Selain itu, pola yang selalu saya lakukan setiap tahun adalah memantau handphone cukup lama, cek seluruh media sosial, menunggu pesan masuk, dan diakhiri dengan kekecewaan di ujung hari. Nyatanya, hanya beberapa teman dekat yang selalu ingat dan mengucapkan selamat setiap tahun ke saya. Sebetulnya tidak selalu demikian. Ada beberapa waktu di mana cukup banyak teman yang memberikan selamat kepada saya, tetapi hanya sesekali. Penyebabnya ada dua, teman dekat menyebarkan info ulang tahun saya ke mana-mana dan orang tua mengadakan makan-makan di rumah. Hanya saja saya selalu ingin banyak yang mengingat ini. Egois sekali, jika dipikir kembali.


Perasaan ini berhenti sampai tahun lalu, ketika saya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, menetap di rumah sewaan bersama dengan sahabat kuliah. Saya hanya sendiri di rumah itu karena seluruh teman sedang pulang ke rumah masing-masing. Saya sengaja tidak tidur sampai tengah malam, seperti biasa, untuk memantau apa ada yang ingat bahwa hari itu saya berulang tahun. Saya tunggu sampai jam 2 pagi ternyata memang tidak ada yang ingat. Ya sudahlah, hari itu dijeda sejenak dengan menonton film yang tidak selesai sampai akhirnya tertidur. Pagi hari ada yang mengucapkan, hanya Mamak, teman terdekat, dan Ibu (yang tiba-tiba menghubungi, tidak tahu kesambet apa). Hanya itu saja. Bahkan teman yang lain baru tahu setelah saya cerita apa yang saya rasakan tentang ulang tahun saat itu di Instagram pribadi dan mengajak saya berbincang melalui video call. Teman kuliah juga tidak banyak yang ingat. Ada sih, tapi ada yang sok lupa dan baru menghubungi saya keesokan harinya (Ngide).


Saya sudah cukup dengan segala kekecewaan ini sehingga akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan bilang ke diri sendiri,


"Tidak masalah tak banyak yang ingat ulang tahunmu, yang penting orang terdekat tahu. Itu yang lebih penting. Toh, saya juga sering lupa dengan ulang tahun teman."


Perdamaian tersebut membawa saya ke cara pandang yang baru mengenai ulang tahun. Saya merasa cukup egois ketika ingin semua orang tahu kapan ulang tahun saya, hingga tidak terlalu memedulikan orang-orang yang mengingat detail kecil ini. Perdamaian ini berujung pada kesimpulan bahwa ulang tahun hanyalah hari biasa di mana umur kita bertambah, tetapi semakin dewasa kita, semakin kita tidak peduli berapa banyak orang yang mengucapkan karena semua telah punya urusan hidup masing-masing, yang lebih kompleks dibandingkan sekadar satu hari perayaan hura-hura. Hal yang seharusnya bisa saya lakukan adalah menghargai diri sendiri karena telah menjadi orang yang seperti sekarang, mengapresiasi teman yang mengingat "hari spesial" saya dengan baik, dan merenung apa yang harus saya lakukan untuk ke depannya, mungkin agar tahu tujuan hidup, berkembang menjadi orang yang lebih baik, dan berbenah diri agar kekurangan diri dapat diperbaiki. Setidaknya begitu yang saya rasakan hingga sekarang.


Saya harap tidak ada lagi keluhan dalam hati kenapa hanya sedikit ucapan yang saya terima esok hari.


Dengan ini saya mengucapkan ulang tahun kepada diri sendiri.


Selamat ulang tahun, Luthfi.

Share:

Minggu, 15 Desember 2019

Dari Gue yang Jarang Berterima Kasih

Tengah malam ini baru dapat satu pencapaian yang ga pernah disangka. Sempat terpikirkan, cukup mustahil untuk dicapai. Hari ini, gue di sana. Tempat yang awalnya seolah mustahil. Tempat yang tinggi, tapi sulit untuk dijadikan destinasi. Dua tahun terakhir ini bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Banyak emosi negatif muncul. Ga nyaman. Ga betah. Ingin pindah rumah. Banyak hal yang menghantui diri sendiri. Saat-saat seperti itu, gue merasa sendirian.

Kilas balik sambil berpikir, saat berada di tempat tertentu, gue selalu lupa. Selama ini gue ga pernah sendiri. Gue ga pernah melakukan segala sesuatu dengan sendirinya. Gue punya banyak orang yang percaya ke gue. Gue punya banyak teman yang dukung apa yang gue mau lakukan. Gue punya banyak orang yang bisa diandalkan, buat bantu segala keperluan gue. Mungkin, ada banyak orang yang ngerelain keperluan pribadinya, hanya buat bantu gue.

Salah yang selalu gue lakukan. Gue pikir ini udah cukup. Gue pikir semua udah sesuai. Ternyata tidak. Gue masih kurang peduli. Masih cuek. Banyak hal yang gue ga sadari, hal kecil pun, terlewat begitu aja. Kurang berterima kasih ke orang lain. Cuek ke orang lain. Kurang kasih perhatian lebih ke orang yang udah banyak bantu. Ke orang-orang yang korbanin diri sendiri buat orang lain.

Dari gue yang jarang berterima kasih, gue berterima kasih kepada orang-orang, khususnya pada tahun ini, yang selalu dukung di saat susah, percaya saat sedikit yang yakin, perhatian di saat gue sering ngerasa sendirian, peduli dengan gue. Terima kasih tetap mau bertahan ketika kalian sadar bahwa gue masih sering ga tau diri, sering nyusahin tanpa kasih ucapan lebih, ga pedulian, hanya mampir ketika lagi butuh aja. Gue pribadi minta maaf ke semua orang yang pernah gue kecewain, repotin, gue hina terus walaupun selalu tetap memberi lebih untuk gue. Minta maaf ketika gue ga pernah bisa kasih sesuatu yang lebih untuk kalian yang selalu dukung gue. Minta maaf karena gue ga pernah bisa jadi teman yang baik untuk kalian. Ini selalu jadi bahan introspeksi ketika gue sadar akan kesalahan pribadi.

Akhir kata, terima kasih dari gue untuk kalian. Semoga dengan kesadaran ini, gue bisa lebih menghargai orang lain.
Share:

Rabu, 24 Juli 2019

Menjadi Perokok Pasif

Gue hidup sebagai salah satu dari sekian banyak orang di Bumi yang memutuskan untuk ga ngerokok karena berbagai alasan. Ya, gue adalah perokok pasif. Semakin dewasa, semakin banyak temen gue yang ngerokok. Sebenarnya gue ga keberatan kalo mereka begitu karena itu urusan mereka masing-masing. Toh, juga ga ada hubungannya sama gue. Tapi hari ini agak berbeda, karena gue (sepertinya, tapi semoga saja bukan) mulai ngerasain dampak jadi perokok pasif.

Dimulai dari beberapa minggu terakhir ketika selesai nongkrong bareng temen. Rata-rata temen gue emang ngerokok. Setiap sebelum tidur, dada gue selalu sesak. Kalo dibilang asma, gue ga punya asma. Kalo dibilang asam lambung lagi naik, kayaknya sih ngga karena rasa sesaknya beda. Kemungkinan terakhirnya karena jadi perokok pasif dan ga kuat ngehirup asap rokok. Gue berpikir itu karena dulu pernah beberapa kali ke rumah sakit akibat batuk pilek dalam waktu yang cukup lama dan diagnosis dari dokter karena waktu itu gue lagi sering ngehirup asap rokok. Ditambah keluarga gue punya riwayat penyakit hipertensi dan/atau jantung dan gue punya potensi itu.

Dalam beberapa waktu terakhir, gue lagi sering ketemu temen dan (biasanya) gue satu-satunya yang ga ngerokok. Mengingat apa yang gue alami akhir-akhir ini, kadang gue minta tolong ke temen buat ngejauhin asap rokoknya dari gue walaupun ujung-ujungnya gue diem juga karena ga enak sama mereka. Tapi, hari ini beda buat gue. Kebetulan tadi malam gue nongkrong bareng temen di kafe dekat rumah, dan obrolannya cukup seram untuk diomongin: kematian. Temen gue cerita karena dia takut meninggal setelah liat dua temennya meninggal di umur yang masih muda. Salah satunya meninggal karena jadi perokok pasif. Dia juga cerita kadang ngalamin sesak nafas setiap sebelum tidur karena dia emang perokok berat. Belum ada yang gue takutin saat dengerin ceritanya.

Ga lama setelah itu, gue nongkrong bareng temen SMP setelah sekian lama ga ketemu. Kami nongkrong berenam dan gue satu-satunya yang ngga ngerokok. Semua berjalan baik-baik aja sampe jelang beranjak tidur. Tiba-tiba dada gue terasa sesak, dan keinget omongan temen gue sebelumnya, kayaknya gue dapet sugesti, jadi takut dan ga bisa tidur sampe bikin tulisan ini.

Ini bukan uneg-uneg, tapi gue capek jadi perokok pasif. Ga ngapa-ngapain setiap nongkrong, dikelilingi orang-orang yang ngerokok, dan ngehirup asap yang bikin dada sesak, kadang membuat gue berpikir "Kayaknya gue harus mulai ngerokok deh daripada begini terus." Ditambah ngeliat Almarhum Sutopo Purwo Nugroho (Salah satu kepala di BNPB yang sering ngasih kultwit di Twitter) yang baru-baru ini meninggal karena jadi perokok pasif di lingkungan kerjanya, jadi membuat gue semakin takut untuk meninggal dengan cara "sesakit" itu.

Mulai dari sekarang, mungkin gue bakal minta ke temen-temen gue yang ngerokok untuk ngejauhin asapnya dari gue karena badan gue emang ga kuat untuk ngehirup asap rokok. Gue rasa ga akan gampang karena takut ada yang tersinggung kalo bilang begitu. Kadang gue ga mau bilang karena takut dicengin dan diledekin cupu. Gue berharap apa yang gue takutin ga terjadi dan temen-temen gue ga akan keberatan kalo nanti diminta demikian.
Share:

Intro Tipis

Nama gue Luthfi, biasa dipanggil Upi. Buat yang belum kenal gue, mungkin nama blog address-nya kedengeran agak aneh.

"Kok temelemelem?"

Teemelem berasal dari inisial nama lengkap gue, Teuku Muhammad Luthfi Mamduh (TMLM). Nama itu gue dapet ketika bikin baju futsal SMP yang pake inisial nama lengkap di bagian depan baju. Rata-rata, orang punya dua-tiga inisial nama lengkap. Gue sempet bingung karena inisialnya panjang, kalo huruf "T"nya dihilangin, bakal jadi "MLM". Multi-Level Marketing. Kan aneh. Kalo dihilangin dua huruf, jadinya ML. Making Love. Lebih aneh lagi. Akhirnya gue pasang aja semua inisial nama gue. Ternyata, waktu bajunya udah jadi tampilan bajunya jadi aneh banget. Kebetulan karena baju gue mencolok, akhirnya ada beberapa temen se-ekskul manggil gue dengan sebutan "Temelem". Maka jadilah nama itu.

Gue ga akan jelasin banyak tentang diri sendiri karena ga terlalu penting juga. Mungkin gue akan jelasin kenapa gue bikin blog ini. Sebenernya blog ini udah dibuat dari tahun 2014 karena tugas ujian praktek di SMP. Kebetulan gue suka nulis juga walaupun ga teratur. Waktu itu, gue semangat banget ngurusin blog ini dan isi kontennya Football Manager (karena itu game kesukaan gue). Sejak masuk SMA, gue ga sempet ngurusin blog. Pada akhir 2017, gue sempet ngelanjutin blog ini sebentar sebelum berhenti lagi karena kegiatan di kampus padat banget. Akhir tahun 2018, gue sempet coba nulis lagi di sini tapi bingung mau tulis apa.

Gue liat beberapa temen udah ada yang mulai nekunin blog, mulai dari bikin blog sendiri sampe nulis di Medium. Sempet baca sedikit tulisan temen, dan gue selalu punya konflik batin kayak gini:

"Gue suka nulis tapi kenapa ga pernah nyempetin bikin tulisan ya?"
"Aduh, tapi kan gue ga ada bahan buat nulis."

Setiap gue ngalamin fase ini sebelum nulis, gue selalu inget omongan Raditya Dika (I'm a big fan of him) untuk ngejawab kegelisahan gue. 

"Kalo lo bikin materi stand-up comedy, tulislah apa yang lo gelisahkan, sesuatu yang lo resahkan..."

Well, gue ga ngomongin stand-up comedy tapi apa yang menjadi dasar dari stand-up comedy itu sendiri: menulis. Mungkin itu cukup menjawab untuk pertanyaan kedua gue mengenai alasan gue belum nulis.

Jawaban dari pertanyaan pertama mungkin cukup sulit untuk dijawab dalam waktu dekat karena kegiatan akademik gue di kampus cukup padat, mengingat gue sebentar lagi akan membuat skripsi. Namun, gue akan mulai sempetin nulis walaupun ga akan sering posting. Topik yang akan mengisi blog gue adalah apa yang ingin gue ceritain dan kegelisahan mengenai fenomena dan kejadian yang gue alami sehari-hari. Gue juga akan mulai nulis di Medium kalo berhasil jalanin blog ini. Doain aja ya, hehehe.

Selamat membaca!

Media Sosial
Twitter: @luthfpi
Instagram: luthfpi
Share: